Sepenggal Kisah Vasudev Khrisna (Sri Kresna)

10:08 PM 5 Comments



Selamat malam para Alteres,

Karena yang namanya serial Mahabharat lagi trending dan booming, saya akhirnya juga belajar tentang watak dan penokohan para karakternya. Di samping memang saya suka dengan sastra, dan ditambah kebosanan kalau belajar tentang wayang. Serial seperti ini cukup membantu untuk tau kisah dari salah satu hikayat terbaik yang pernah diceritakan di dunia.

Kisah Khrisna di bawah saya susun dari beberapa sumber termasuk wikipedia.com, mungkin kalian akan menemukan beberapa yang berbeda versi dengan yang sebelumnya kalian ketahui. Karena memang dalam pengisahan wayang pun, versi yang diceritakan akan disesuaikan dengan budaya dan tradisi suatu tempat. Seperti itu pula yang dilakukan Sinuwun Sunan Kalijaga.

Dan juga mungkin ada beberapa yang tidak saya rangkum di sini, karena juga takut terjadi kesalahan dengan versi yang benar-benar asli. Saya juga tahu bagaimana rasanya kalau sekedar 'kisah' yang kita tulis akan kontra dengan hikayat sebenarnya.

CEKIDOOOOOT.....!!




.VASUDEV KHRISNA....

                Bathara Kresna, Sri Kresna, Vasudev Khrisna, Awatara Khrisna, Madawa, adalah awatara (penjelmaan, inkarnasi) kedelapan dari 10 awatara dari Dewa Vishnu (Sang Dewa Pemelihara Alam). Kesepuluh awatara lain adalah Matsya Awatara (Sang Ikan), Kurma Awatara (Sang Kura-Kura), Waraha Awatara (Sang Babi Hutan), Narasimha Awatara (Narasinga: Sang Manusia Berkepala Singa),Wamana Awatara (Sang Brahman), Parasurama Awatara (Ramaparasu: Sang Ksatria Berkapak), Rama Awatara (Prabu Ramawijaya: Sang Ksatria Pemanah. Dikisahkan lebih banyak di kasastran Ramayana), Khrisna Awatara (Sang Gembala: Dikisahkan pula di kasastran Mahabharata dan Bhagavadgita), Buddha Awatara (Pangeran Sidharta Gautama: Sang Buddha), dan yang terakhir Kalki Awatara (Sang Pemusnah: Inkarnasi ini dipercaya akan muncul di akhir zaman).


                Khrisna adalah anak ke delapan dari pasangan dari Prabu Basudewa (Vasudev) dan Puteri Dewaki. Sering juga dikisahkan beliau adalah anak ketiga dari pasangan tersebut. Tersebutlah Prabu Basudewa dan Dewaki harus menghabiskan masa di tahanan, karena diramalkan putera-nya akan membunuh pamannya sendiri, Prabu Kangsa (Raja Kamsa). Untuk menghindari ramalan tersebut, Prabu Kangsa pun mengurung Basudewa dan Dewaki dan membunuh setiap anak yang terlahir dari pasangan tersebut. Seketika sampai pada putera ke tujuhnya, putera ketujuh tersebut menghilang dan tidak sempat dibunuh. Begitu pula pada putera ke delapannya, Prabu Basudewa memilih untuk mengeluarkannya secara sembunyi-sembunyi. Kisah lain ada yang menyebutkan bahwa saat masih bayi, Khrisna keluar sendiri dari penjara bersama dua saudaranya. Kisah lain pun ada yang menyebut, bahwa 3 putera terakhir Prabu Basudewa dikirim secara ajaib ke rahim Yasoda di Vrindavana. Putera-putera Prabu Basudewa tersebut selanjutnya kita kenal dengan Balaram, Khrisna, dan Subadhra (Prabu Baladewa, Sri Kresna, dan Dewi Subadra).


                Vasudev Khrisna dapat dengan cepat dikenali dengan hiasan bulu merak dan jubah kuning yang dikenakannya, beliau selalu membawa seruling, dan sering digambarkan mempunyai kulit berwarna biru tua (beberapa negara lain menggambarkannya memiliki kulit berwarna hitam). Biru tua selalu melambangkan ketidakterbatasan, mengambil dari warna kedalaman laut dan langit. Masa kecilnya dihabiskan di sebuah kota yang dikenal dengan nama Vrindhavana. Dan di situ pula, Raja Kangsa masih sering berupaya membunuhnya. Beberapa iblis sempat dikirim adalah Putana (Iblis Wanita), Kesi (Iblis Kuda), dan Agasura (Iblis Ular). Khrisna juga menjinakkan Naga Kaliya yang sempat meracuni sungai Yamuna. Atas pertolongan Khrisna pula, dengan membuat jejak kaki di kepala Kaliya, Garuda (musuh para naga) tak berani menganggu Naga Kaliya.


                Kisah kepahlawanan masa kecilnya pun dikisahkan pula saat beliau mengangkat bukit Govardhana untuk melindungi rakyat Vrindavana dari amukan Dewa Indra (Indra Dev, Bhagawan Indra, Dewa Perang yang menguasai hujan). Di saat pemujaan rakyat Vrindavana pada Dewa Indra mulai melebihi batas dan menjadikan Dewa Indra sombong, Khrisna menyarankan untuk menghentikannya dan lebih memilih bersyukur dengan menjaga kelestarian alam, bukan membuat persembahan yang menghabiskan sumber daya alam. Dewa Indra pun marah dan berniat menghancurkan Vrindavana, namun Khrisna berhasil mengalahkannya  dan menyadarkannya.


                Setelah dewasa, Khrisna menetap di Mathura (Madura), setelah mengalahkan Raja Kamsa. Namun pembalasan dendam dan terror dari Jarasanda, putera Kangsa, kepada para Yadavas (Yadawa, rakyat pengikut Khrisna, rakyat penggembala) membuatnya memilih melarikan diri dan mendirikan kerajaan baru, Dwaraka (Dwarawati, saat ini adalah wilayah Gujarat). Di sana beliau menjadi raja bersama Balaram dan Subadhra sebagai pendampingnya, dan mulai ikut turun dalam Mahabharata.


                Vasudev Khrisna adalah kakak ipar dari Arjuna Putera Pandhu, yang memperistri Subadhra. Beliau juga merupakan ahli strategi dan juru damai dari pihak Pandava (Pandhawa) kepada pihak Korawa (Kurawa). Beliau juga memiliki kedudukan yang sangat dihormati di Indraphrasta (Negeri Berkat Indra: Amarta) yang didirikan dan dipimpin oleh Yudhistira Putera Pandu (Prabu Puntadewa) dan adik-adiknya. Dalam suatu kesempatan, dikisahkan bahwa sepupu dari Khrisna, Pangeran Sishupala, menghadiri Rajsuya Yajna (ritual memerdekakan diri) dari Indraphrasta. Di tengah acara tersebut, Sishupala mengejek dan memperolok-olok Khrisna, dan para Pandawa di muka umum. Karena sumpahnya yang akan mengampuni 100 keburukan Sishupala, Khrisna hanya diam dan tak berbuat apa-apa, namun setelah Sishupala mengejeknya lebih dari 100 kali, Khrisna segera mengeluarkan cakra dan memenggal kepala Sishupala.


                Selain berjasa atas merdekanya Indraphrasta, Khrisna juga beberapa kali membawa pesan perdamaian kepada Korawa sebelum Bharatayuda, namun selalu ditolak oleh Duryodhana (Pangeran Duryudana, Putera Mahkota Hastinapura (Astina), Raja Indraphrasta (setelah merebutnya dari Yudhistira lewat permainan judi dadu). Sebelum Bharatayuda pecah pun, Khrisna sempat menyuruh Pandawa dan Korawa memilih dirinya yang tanpa senjata atau seluruh pasukan yang dipimpinnya untuk menjadi sekutu. Arjuna pun memilih Khrisna ada di pihaknya walaupun Khrisna tidak bertarung sama sekali, dan hanya menjadi kusir kereta Arjuna.


                Peranan di Bharatayuda sebagai ahli strategi pun tidak bisa diacuhkan. Pada suatu kesempatan, beliau bahkan sempat melepas roda dari kereta kudanya dan hendak melemparkannya ke leher Bhisma Devavrat (Dewabhrata Bisma, kakek Arjuna), karena selama perang, baik Arjuna dan Bisma tidak serius dan terkesan setengah hati. Namun hal itu dihentikan Arjuna, dan Khrisna tidak berbuat apa-apa. Khrisna pula yang pada akhirnya, menyarankan Pandawa untuk bertamu ke tenda Bisma dan menanyakan kelemahannya. Setelah Bisma roboh, dan Korawa mengangkat Mahaguru Drona (Resi Durna) sebagai panglima perang, Khrisna pula yang menyuruh Vrikodar Bheem (Bima Putera Pandhu, Werkudara) untuk membunuh gajah perang bernama Aswatama. Berita kematian Aswatama sang Gajah, diberitakan sedemikian heboh di Kurukhsetra, sehingga membuat Drona berpikir, bahwa Aswatama anaknya lah yang mati. Pada saat itulah Drestadyumna (Putera Mahkota Kerajaan Drupada, kakak dari Dropadi (Panchali, Drupadi) dan Shikandini (Srikandi) berhasil memenggal kepala Drona, sesuai dengan sumpah raja Drupada.


                Kekalahan Prabu Salya (kakak dari Puteri Madri, istri Pandhu dan paman dari Nakul dan Sadhev (Nakula Putera Pandu dan Sadewa Putera Pandu), pun disebabkan oleh Khrisna. Khrisna yang menyarankan Yudhistira untuk maju perang melawan Prabu Salya yang menguasai Chandrabhirawa (seorang raksasa kerdil, yang apabila di lukai akan menjelma menjadi dua. Ada juga versi yang menyebut bahwa itu adalah sebuah ajian kebal). Chandrabhirawa yang tak berkenan ke orang suci pun mendadak kalah, dan dengan segera Yudhistira melemparkan Kalimahosadda (Jamus Kalimusada, sebuah kitab yang merupakan senjata dari Pandhawa) ke arah Salya, kitab tersebut segera berubah jadi tombak dan menghujam dada Salya. Pada kesempatan lain, kekalahan dari Duryodana putera Dretharastha pun disebabkan oleh Khrisna. Setelah kehabisan panglima perang, Duryodana berniat maju sendiri di pertempuran terakhir. Duryodana pun meminta berkah pada Dewi Gendhari (Gandhari, adik dari Sangkuni), ibunya. Disyaratkan oleh Gendhari bahwa Duryodana harus menemuinya dalam keadaan telanjang, namun Khrisna mengolok-oloknya saat melihat Duryodana telanjang, sehingga dia menutupi pangkal pahanya dan menemui ibunya. Gendhari pun membuka matanya, dan terkejutlah dia karena Duryodana tidak telanjang. Dia lantas berkata bahwa seluruh tubuh Duryodana akan kebal, namun tidak dengan pangkal pahanya. Pada akhirnya, Duryodana pun tumbang dalam perang gada melawan Bima, karena dihantam pada pangkal pahanya.


                Pasca perang Bharatayuda, Dewi Gendhari sempat mengutuk Khrisna karena membiarkan Bharatayuda terjadi. Disebutkannya, Bharatayuda tidak membawa damai dan ketentraman karena pada akhirnya hanya menyisakan Pandawa yang sudah tua dan cucunya, Parikesit (Putera Abimanyu, cucu Arjuna). Dia mengutuk bahwa Yadawa dan Dwaraka akan mengalami hal yang sama dan akan runtuh. Hingga pada suatu kesempatan, para laki-laki Yadawa mendandani Pangeran Samba (Putera Khrisna) dengan dandanan wanita hamil, dan menyuruh para resi untuk meramal jenis kelamin dari jabang bayi tersebut. Sang Resi pun merasa dihina dan mengutuk bahwa Pangeran Samba akan melahirkan sebuah gada yang akan membunuh mereka semua. Para Yadava pun menghancurkan dan menumbuk gada tersebut jadi bubuk dan membuangnya di laut, namun serbuk itu kembali ke pantai, dan tumbuhlah logam-logam panjang di tepi pantai.


                Beberapa bulan kemudian, Setyaki dan Kertamarma yang sedang ada di pantai tersebut terlibat olok-olokan tentang Bharatayuda. Mereka akhirnya malah berperang dan melibatkan seluruh Dwaraka, mereka mengambil logam-logam di pantai dan saling bunuh, tidak ada yang selamat. Baladewa yang datang ke tempat kejadian segera melaporkan musnahnya dinasti Yadawa pada Khrisna, Khrisna lantas menyuruh pelayannya untuk menyampaikan berita tersebut ke Pandawa, dan beliau ikut Baladewa ke dalam hutan. Baladewa duduk dengan posisi yoga, dan dari mulutnya mengeluarkan asap putih menuju samudera, Baladewa telah mengakhiri hidupnya. Khrisna pun mengambil posisi yoga dan duduk. Seorang pemanah benama Jara yang sedang lewat di sana, melihat ada seekor rusa emas dan memanahnya, ternyata yang dipanah adalah Khrisna, sehingga wafatlah beliau.


                Beberapa versi menyebut bahwa Jara adalah istilah lain yang mempunyai makna usia tua. Sehingga bisa diartikan Sri Khrisna wafat karena usia tua. Sedang kisah lain menyebut, hal itu adalah karma dari kehidupan sebelumnya, yaitu Prabu Ramawijaya, yang pernah memanah Resi Subali. Sehingga beliau pun wafat dipanah. Seminggu setelah kematian Sri Khrisna, Tsunami melanda Dwaraka dan menenggelamkannya ke laut.

‘…ia yang lahir harus mati, ia yang mati harus lahir. Jangan gelisah, karena hukum ini memang tak terelakkan. Makhluk-makhluk yang kau lihat ini, wahai Arjuna, pada awal mulanya Tak-Nyata, pada masa pertengahannya terasa Nyata dan pada akhirnya menjadi Tak-Nyata lagi. Lantas apa gunanya kamu bersedih hati? Yang diketahui manusia hanya antara lahir dan mati saja. Kita ini sebenarnya hanya alat-Nya, yang dikirimkan untuk melakukan tugas-tugas-Nya, jadi kita seharusnya berbhakti sesuai dengan kehendak-Nya…’ (Bhagavad Gita 2: 27-28)

Unknown

Some say he’s half man half fish, others say he’s more of a seventy/thirty split. Either way he’s a fishy bastard. Google

5 comments:

Dimohon untuk menggunakan kata-kata yg sopan