Showing posts with label ParaFrasa. Show all posts

Democrazy



Sebelumnya, cercaan dan unek-unek ini hanya ngawur belaka. Tidak ada yang bener dalam cercaan dan awur-awuran saya ini. Saya hanya memang suka ngawur, ngawur sana, ngawur sini. Dan yang pasti hanya membunuh waktu, membiasakan mencerca daripada mendendam.

                Malam yang sangat menarik menurut saya. Mendengar dan melihat paparan visi, misi, bahkan sudut pandang dari masing-masing calon presiden kita, tentu saja disertai dengan ekspresi mereka saat mereka memaparkannya. Cara-cara seperti ini adalah yang paling saya sukai. Bagaimana dua kubu yang bersaing, atau dalam kasus lain dapat diartikan berseteru, diketemukan. Diminta saling bertatap muka, beradu cara pikir, dan dihakimi oleh seluruh komponen manusia.


                Sejujurnya saya tidak mengerti soal hakim. Bagaimana seorang manusia biasa, bisa memberi keputusan yang benar dan adil. Beliau mungkin bisa memberi keputusan yang benar, namun pasti tidak adil. Beliau pun pasti bisa memberi keputusan yang adil, tapi pasti tidak benar. Namun jika yang member penghakiman adalah rakyat banyak, dengan berbagai pikiran dan pendidikan, dengan berbagai sudut pandang dan ideology, dan tentu saja dengan berbagai emosi. Maka penghakimannya akan mendekati benar, mendekati adil, dan yang paling penting, akan sangat menarik.


                Begitu pula apa yang dilakukan dalam debat capres-cawapres. Tidak ada jawaban dari mereka yang benar mutlak, tidak ada pula yang salah mutlak. Kesemuanya akan menjadi bahan bagi rakyat untuk menilai, mana yang dianggap hamper benar, mana pula yang dianggap hampir salah. Saat rakyat akan membandingkan masing-masing kasus dan solusi dengan latar belakang pendidikan dan tradisi yang berbeda, maka keputusan yang keluar dari masing-masing individu rakyat tersebut akan berbeda, sesuai dengan latar belakangnya. Dan keberagaman keputusan itulah yang akan menjadi penghakiman yang sangat menarik, yang akan mendekati kebenaran, yang akan mendekati keadilan.


                Begitulah cara Tuhan negeri ini, Demokrasi, bekerja. Dia bekerja dengan mengandalkan keputusan yang beragam tersebut, mengandalkan kebhinekaan, mengandalkan sudut pandang yang berbeda, mengandalkan hak-hak dasar manusia dalam berpendapat, dan tentu saja, mengandalkan kemampuan manipulatif dan persuasive dari seseorang. Kita mungkin akan merasa benar saat keputusan kita didukung oleh mayoritas, dan kita akan merasa salah jika kita adalah penganut keputusan minoritas. Memang, memang seperti itulah paham kebenaran yang harus kita anut jika kita orang-orang demokratis. Seorang bajingan akan memimpin sebuah pemerintahan jika didukung oleh mayoritas, itulah kebenaran demokrasi, itulah manipulasi demokrasi, itulah ke-bajingan-an Tuhan negeri ini.


                Pada mulanya, saya sering berucap bahwa demokrasi itu hanya kakak dari bungsu, hanya anak keempat dari ibu Pancasila. Pancasila sendiri punya anak-anak yang seharusnya lebih diutamakan, lebih hebat daripada si anak keempat ini. Anak pertama Pancasila adalah Ketuhanan, apabila Pancasila telah moksa dari tahta negeri ini, seharusnya Ketuhanan lah yang akan menjadi penerusnya. Jika mungkin Ketuhanan tidak mampu untuk menggantikan Pancasila, masih ada anak kedua, yaitu Kemanusiaan. Jika Kemanusiaan juga tidak mampu, masih ada anak ketiga, Persatuan. Nah, apabila Persatuan tidak juga mampu, barulah anak keempat, Mufakat (Demokrasi) boleh duduk di tahta negeri ini. Namun jika ternyata, Demokrasi juga tidak mampu, dia pun harus digantikan anak bungsu, Keadilan Sosial.


                Sering diartikan oleh sepuh-sepuh budayawan dan sastrawan, bahwa Pancasila sebenarnya adalah karakterisitik pemimpin negeri. Bukan system ideology seperti yang saya jabarkan di atas. Setiap pemimpin yang memimpin negeri ini, haruslah Berketuhanan, Berkemanusiaan, dan berjiwa Pemersatu, setelah itu beliau harus melaksanankan Mufakat (Demokrasi), yang tujuannya adalah untuk Keadilan Sosial. Jika merunut pada hal ini, tentu saja, si anak keempat ini adalah sistemnya. Sementara anak pertama hingga ke tiga, adalah karakter pemimpinnya, dan anak bungsu adalah tujuannya. Untuk itu, negeri ini berarti sudah ada di jalan yang tepat dalam menerapkan demokrasi sebagai system. Masalahnya adalah, pemimpin yang di dadanya bersemayam sila ke-1 sampai ke-3, belum ada. Saat pemimpin dengan karakter yang tepat muncul, dan menjalankan demokrasi, maka jelas, tujuannya adalah Keadilan Sosial, tepat. Namun jika karakter pemimpin belum didapatkan, namun demokrasi telah dikumandangkan, ya begitulah… Demokrasi jadi durhaka pada Pancasila, bahkan merasa jadi Tuhan di negeri Pancasila ini.


                Ketuhanan sebagai sulung dari 5 bersaudara ini mengajarkan pemimpin kita untuk benar. Untuk lurus dan bertanggung jawab. Untuk senantiasa menjalankan pemerintahan bukan hanya berlandaskan hukum, namun juga norma-norma Tuhan. Putera kedua, Kemanusiaan, mengajarkan welas asih. Saling menyayangi, dan melindungi rakyat. Mengajarkan  iba dan pengampunan dalam melaksanankan hukum. Memberi batasan, mana yang pantas, dan mana yang tidak. Si Panengah, Persatuan, mengajarkan untuk gotong royong, saling membantu, merangkul semua kalangan untuk menjadi satu bangsa yang kebhinekaannya justru menjadi alasan utama rakyatnya, untuk saling bekerja sama. Demokrasi membawa pemimpin sempurna itu untuk berpikir terbuka, menerima masukan dan kritik, dan menghargai perbedaan pendapat. Demokrasi memiliki poin yang tak tersentuh saudaranya yang lain, yaitu mau mendengar. Mendengar keluhan dan masukan dari siapapun, dengan jiwa yang lapang dan rendah hati. Sementara Keadilan Sosial akan hadir di masa damai, akan dating di masa tenang, setelah semuanya tuntas tanpa sedikitpun celah. Keadilan social akan membawa rakyat merasa dihargai, merasa dilindungi, baik oleh hukum, maupun oleh pemimpinnya. Dan keadilan social akan membawa suatu masa dimana berlaku curang tidak akan hadir di pikiran siapapun.


                Dan jika kembali menilik debat capres-cawapres kemarin. Saya pun tersenyum simpul, bagaimana mungkin justru demokrasi yang jadi tema debat. Bagaimana mungkin anak keempat ini yang maju ke depan seolah-olah jadi hukum yang harus dipatuhi capres-cawapres. Dan bagaimana mungkin, ibu dari Demokrasi, yaitu Pancasila, sama sekali tidak disinggung di debat tersebut. Di satu sisi, beliau ini hanya bermain kata dengan kekayaan dan sumber daya alam yang bocor. Dan di sisi lain, beliau ini malah lebih senang membahas isu-isu HAM di masa lalu, dan menyerang beliau yang satunya. Namun Pancasila? Dimana Pancasila? Negeri ini negeri Pancasila bukan? Ini bukan negeri Demokrasi iya toh? Lantas dimana Pancasila? Lantas dimana Ketuhanan? Dimana Kemanusiaan? Baiklah, kemanusiaan adalah hal yang dibahas dengan balutan isu pelanggaran HAM di masa lalu. Dimana Persatuan? Dan Keadilan Sosial, Keadilan Sosial adalah utopia yang berkali-kali di ucapkan beliau ini, jika…. Hanya jika sumber daya alam tidak bocor. Dan kalaupun tidak bocor, ternyata uangnya pun pada akhirnya akan menggendutkan perut-perut pejabat Negara, dengan dalil, ‘Untuk Mengurangi Korupsi, Kesejahteraan Aparatur Negara harus Diperhatikan’. Lantas untuk rakyat apa? Susu putih gratis? Atau harapan-harapan semu seorang pemimpin mau ikut nyemplung di banjir, bareng-bareng mindahin barang-barang rakyat yang nilainya ndag seberapa, namun dengan kamera media di sekelilingnya?


                Yah… begitulah cara kerja Tuhan negeri ini. Salah demokrasi kah? Tidak… Ini adalah salah orang-orang yang menuhankannya. Salah orang-orang yang entah lupa atau pura-pura lupa kepada Pancasila. Salah orang-orang yang lupa jika demokrasi masih punya 4 saudara lain. Dan tentu saja ini salah kita, salah kita yang membiarkan ini terjadi.

Wong yang Jempolnya Dipotong Saja ndag Protes.... Lah Saya?



     Tresno kang luhur lan katanggung jawabkuwi ora semruduk. Ora nyedhaki yen ora biso ikhlas. Ora nggandeng yen durung iso sabar. Ora nyanding yen ora bisa nguripi.


                Saya tadi, seperti biasa, ngantor. Ngerjain kerjaan di salah satu perusahaan nasional di daerah Surabaya. Banyak yang bilang, saya ini main aman masuk perusahaan kayak gitu. Nggih, soalnya kan gajian bisa dijagain. Jam kerja pun sebatas ndag sampai malem-malem sekali. Dan lagi, ya saya masih punya waktu buat ngehobi. Buat nulis, buat main, dan juga buat ngelamun.


                Karena saya cuman karyawan biasa, ya setiap abis ngerjain pekerjaan pasti dicek dulu sama pimpinan saya, semacam supervisor gitu. Namanya juga masih muda, masih ijo. Kan takutnya, kerjaan saya ndag beres-beres amat. Ada cacat sana, cacat sini. Dan pengecekan sama pegawai yang lebih senior gitu juga kayak semacam filter buat hasil kerjaan saya sendiri.


                Nah, siang tadi. Kejadiannya saya lagi ngecek bareng sama supervisor itu. Ndilalah, pas saya ikud beliau ngecek itu, beliau tanya-tanya sama saya. ‘El, awagmu nduwe pacar?’, ‘Lalapo kog ndag duwe pacar?’, ‘Ndag iri karo konco-koncomu tah?’. Ya saya sendiri emang jomblo, jadi ditanya gitu, ya saya jawab saja, ‘Kulo lowong kog, Pak.’ Ndag iri juga saya sama temen-temen, wong jodoh kan udah ada yang ngatur. Yang pasti, sekarang saya usaha saja. Gimana cara saya bertanggung jawab, kalau nanti pas Tuhan udah nemuin saya sama jodoh saya.


                Saya kira sih, obrolannya saya sama beliau nyampe situ saja. Ternyata ndag juga. Beliau malah cerita tentang salah satu masa pacarannya. Jadi gini, dulu beliau itu sempet sekolah atau kuliah gitu di Malang. Kebetulan, saya yang asli Malang juga tau tempat-tempat yang disebutin beliau. Jadi agak nyambung gitu waktu beliau cerita. Waktu di Malang itu, beliau punya pacar di daerah salah satu kampus nuansa islami di daerah Dinoyo. Menurut beliau sih, jaman segitu, beliau udah sering mboncengin, nganterin pulang cewek itu ke rumah pake sepeda onthel.


                Gitu-gitu-gitu, sampai akhirnya beliau lulus dan kerja di Surabaya. Kalau ndag salah, tadi katanya sekitar dua tahun, sebelum beliau istilahnya ‘pulang’ ke Malang nemuin cewek itu tadi. Eh, ternyata, saya ndag tau sih hubungan beliau sama cewek itu tadi selama beliau di Surabaya. Yang pasti, si Cewek ternyata sampun punya pacar lagi, yang masih tetap menurut beliau, lebih sugih. Beliau pun mandeg, dan balik ke Surabaya.


                Cerita beliau berhenti sampai di situ, saya cuman manggut-manggut saja. Saya ngerti sih, Karena prinsip saya mungkin juga kayak beliau gitu. Jadi saya sudah boleh ceritain cerita saya ya mulai sini?


                Saya juga pernah suka sama cewek. Cakep ceweknya. Heheheheeee. Pas jaman sekolah dulu. Iya suka gitu, naksir, kasengsem, tresno, pokoknya ndag ada hari kalau ndag minimal ngirim sms lah sama dia. Tapi waktu itu saya (yang masih sekolah) juga sadar diri. Inget ya, sadar diri, bukan pengecut. Heheheheee. Wong saya ini bukan anak dari keluarga gedongan, bukan putera dari keluarga kaya. Jadi rasanya kok nanti kalau saya nerusin secara bener-bener sama cewek itu, saya takut saya ndag isa bertanggung jawab. Jadi saya pun ya cuman sebatas suka aja sama cewek itu.


                Saya pun pada akhirnya pergi ke Surabaya, kerja di perusahaan yang saat ini saya tempati. Niad awalnya ya memang buat ngumpulin bekal saya biar bisa lebih serius lagi sama dia. Paling tidak, kalau saya udah kerja, udah punya penghasilan pasti tiap bulan, saya pasti ndag ngrepotin bapak-ibuk saya lagi. Jadi saya siap buat direpotin sama cewek yang saya suka itu.


                Jadi selama, ya hampir sama, dua tahun itu saya kerja di Surabaya dan ndag ngehubungin cewek itu. Buat konsentrasi sih, sehingga bisa sebagai surprise buat dia kalau saya balik ke dia lagi, lebih serius dan bertanggung jawab pastinya. Tapi juga sejalan ma beliau tadi, takdir Tuhan bilang lain ya, ternyata juga dia udah ada yang punya waktu saya balik nemuin dia sekitar setahun yang lalu. Sakit hati El? Ya iyalah. Heheheee…


                Saya pun, apa ya istilahnya, agak syok. Apa mungkin pikiran saya selama ini salah? Setau dan sepikiran saya, namanya laki-laki ya, seneng sama perempuan, pasti ndag cuman seneng saja yang mereka janjikan kan? Ndag cuman sekedar kata cinta yang manis saja kan? Pasti ada parameter lain, masa depan dan kemakmuran, misalnya. Dalam masa membina rumah tangga nanti, masa depan dari mata pencaharian suami pasti juga jadi tolak ukur kebahagiaan, dan hal itu yang saya coba tabung selama dua tahun yang lalu.


                Istilahnya, saya kerja kan demi cita-cita saya buat hidup sama dia. Bisa dikatakan, kalau dia itu motivasi saya. Tapi sekarang, setelah saya nabung gini-gitu, ternyata dia milih yang lain. Bekal keyakinan kayak gitu, saya mau coba ngeluruk cewek itu tadi. Tapi saya urungkan, bukankah gitu-itu kemaruk? Sombong? Congkak? Membanggakan diri sendiri dan merendahkan orang lain?


                Sama seperti Palgunadi yang ibu jarinya diminta oleh Pandita Durna untuk dipotong. Toh, padahal sebenarnya, guru dari seorang Palgunadi adalah hanya sebuah patung Durna. Namun saat Pandita Durna yang asli meminta ibu jarinya, Palgunadi pun lantas ngasih tanpa sungkan dan marah potongan ibu jarinya ke Durna. Bahkan saat ternyata, potongan ibu jari tadi digabungkan Durna ke tangan Arjuna, sehingga Arjuna menjadi pemanah terhebat di seluruh hikayat pewayangan, Palgunadi tetap bisa memanah, tanpa ibu jari, dan masih jadi salah satu pemanah yang mampu menandingi kehebatan Arjuna.


                Lantas apa? Yah, motivasi dan kebisaan seseorang kadang memang didapat dengan sebuah cara. Namun, saat orang itu bener-bener sampun bisa melakukan kebisaannya dari hati, tanpa cara yang sama pun, dia masih bisa melakukannya. Tanpa ibu jari, Palgunadi tetap pemanah hebat. Tanpa cewek itu pun, saya pengen tetap punya motivasi jadi orang hebat. Mungkin dewata memang menggariskan Arjuna jadi ksatria pemanah nomor satu di dunia. Mungkin dewata pun menggariskan Palgunadi harus kehilangan ibu jarinya, justru pada saat dia bertemu dengan Durna yang asli. Dan mungkin, Tuhan pun sudah menggariskan hikayat saya sendiri seperti ini.


                Palgunadi ndag protes, jadi masak saya harus protes? Heheheheeee….


Memori - Kau Buat Ku Berarti



Di saat semua kata,
Telah habis terucap,
Namun tak sama cintaku padamu…


                Kemarin, saya berangkat singasong (bahasa kerennya: karaoke) bareng temen-temen saya. Di suatu kesempatan, entah kenapa, saya memilih sebuah lagu lama untuk dinyanyikan. Paginya, tepatnya tadi pagi, saya kok pengen donlot lagu itu lagi. Alhasil lagu lama ini sekarang masuk list lagu-lagu antah berantah di handheld saya.


                Nah, malam ini, niscaya saya hadep leptop sambil lagu itu saya maenin berulang-ulang di pinggir saya. Lagu boleh jadul, tapi namanya memori, emang susah kan buat kehapus? Alaaaah…


Aku tak hanya meyakinkan dirimu,
Tapi ku juga selalu menjaga hatimu,
Tak seharusnya,
Engkau pertanyakan cinta,
Karena sesungguhnya kau yang selalu,
Membuatku berarti…


                Udah ketauan ya, lagunya siapa?
                Haha… Pernah ndag sih ngalamin sebuah masa dimana awalnya kita cuman iseng, tapi ndag tau kenapa, keisengan itu akhirnya menjulur jadi suatu yang ‘lebih’ serius? Ya, hobi kadang bisa gitu. Kita cuman iseng aja ngelakuin hobi kita, eh ternyata tiba-tiba hobi itu jadi hal yang menjanjikan. Atau, coba-coba makanan juga bisa. Awalnya iseng aja, makanan apa sih ini, nyoba ah. Eh, ternyata makanan itu, ampuh sadis, enak banget, sampai jadi makanan favorit kita. Atau bisa juga, cinta.


                *Sfx: Suara music digedein biar tambah menghayati…


                Iya cinta. Pada masa SMK saya (sudah sedikit saya singgung di post sebelumnya), salah satu yang musim adalah ‘masih’ nomer nyasar. Seorang yang niat pedekate, tapi ga berani (baca: cupu, goblok, cengok, kasar banget bahasanya), pada akhirnya hanya bisa pedekate lewat sms dan telpun, dan senjatanya, awalnya, adalah pura-pura ngirim sms nyasar.


                Hal itu pun saya lakukan juga pas masa SMK. Tapi bukan karena saya cupu, cengok, dan goblok yak. Tapi ya karena saya orangnya rada pemalu (seeeh). Engga, karena si cewek ini agak jauhan sama daerah tempat saya tinggal maupun sekolah saya, dan itupun bukan pura-pura sms nyasar, tapi emang niat kayak gitu. Lah…


                Cewek ini cuman saya kenal sebatas lewat sms dan telpun, ya cuman sebatas itu. Kita engga pernah sekalipun ketemu. Sama sekali. Segala hubungan yang saya lakukan adalah cuman lewat sms dan telpun. Jadi saya sama sekali ga tau wajah dan penampakan ini cewek. Entah cantik, entah engga, entah gendut, entah kurus, saya ndag tau. Doi memang pernah sekali ngirim fotonya, itupun, dengan segala daya teknologi dan hardware (baca: henpon) pada masa itu, saya harus beberapa kali bolak-balik warnet cuman sekedar untuk ngeprint foto. Itupun hasilnya ancur banget, entah fotonya, printernya, atau modelnya mungkin.


                Ehm, dan untungnya bersekolah seangkatan saya adalah, ceweknya baik-baik. Ga judes, jutek, nyebelin, songong, kayak sekarang ya. Dari awal saya mengirim pesan ke doi (selanjutnya saya sebut Kumbang saja ya), doi sudah baik banget, mau kenalan sama saya, ngobrol, tanya-tanya di hari pertama. Bandingkan dengan cewek sekarang:
Cowo    : Hai :D
Cewe     : Hai.
Cowo    : Boleh kenalan?
Cewe     : GAK!

Emmmm…. Atau:
Cowo    : Hai :D
Cewe     : Hai.
Cowo    : Boleh kenalan?
Cewe     : Boleh.
Cowo    : Namanya siapa?
Cewe     : Arin (entah nama aseli, atau kaga).
Cowo    : Rumahnya dimana?
Cewe     :Eh, aku lagi sibuk nih. Ntar dilanjut lagi ya (dan doi ga pernah ketemu kalian lagi).


                Yah begitulah kan kebanyakan cewe jaman sekarang kan? Beda kan sama angkatan saya? Si Kumbang itu contohnya, masih hari pertama kenalan (lewat sms aja), doi mau ngobrol, dan ndag pasif pastinya. Kan ada yang kalau lagi chat gitu, kita yang harus nanya terus, sementara doi cuman mbales iya, engga, belum, sudah, dan makasih.


                Kumbang udah jadi kayak temen saya yang selalu ada. Mau pagi, siang, malem, saya sms, doi pasti bales. Dengan tambahan-tambahan perhatian kecil seperti ‘udah makan belum nih?’, ‘eh, masih di sekolah ya? Yadah, entar kalo udah pulang kabarin ya?’ dan kata-kata yang sebenarnya mainstrim banget ya, tapi nyenengin banget pada masa SMK saya.


                Entah karena ngerasa nyambung atau apa, kita (saya sama Kumbang), mulai goblok. Mulai manggil-manggil sayang, mulai ngomong-ngomongin cinta. Buseeeh banget lah, wong ketemu aja belum pernah (sampai sekarang), udah sayang-sayangan, kangen-kangenan, cinta-cintaan, kampret-kampretan, eh. Dan itu berjalan cukup lama. Seinget saya, saya terus rajin rutin hubungan sama Kumbang sampai hampir 5-6 bulanan. Pernah kok (serius, ga bohong) waktu hari minggu, kami smsan mulai jam 6 pagi, sampai mau tidur malem. Bweeeeeh…


                Suatu ketika, saya suruh Kumbang untuk dengerin radio di salah satu frekuensi. Aduh, jaman segitu mah, kalau dapet salam, atau orang yang kita salamin itu denger salam kita di radio, itu dah sesuatu banget. Apalagi ditambah rekues lagu, dan diputer lagunya. Ampuuuun, dunia kayak miring sebelah dah. Nah, waktu itu saya sempat rekues lagu, dan apesnya, lagunya ga diputer. Kumbang yang sedari awal saya suruh dengerin radio tadi, karena ga tau lagunya, jadi nanya. ‘Ini lagu yang kamu rekues yang gimana sih lagunya?’


                Saya bisa aja nyuruh doi buat nyari di internet atau 4shared atau gugel, atau apa aja. Namun jawaban saya waktu itu apa, ‘Nanti… Sebelum kamu tidur aja, aku nyanyiin buat kamu.’ Jegeeeer. Jawaban paling keren yang pernah terucap dari mulut saya ini, dah jentel banget kayaknya dah. Sebuah sms balesan dengan sepatah kata ‘beneran nih?’ dengan emotikon senyum, langsung bikin saya makin jumawa, ‘Bener lah, apa yang engga beneran buat kamu sih?’ Wasyuuuuu… Alhasil pun, malam itu saya langsung ngapalin lirik, dan bolak-balik dengerin itu lagu, doa juga biar nadanya pas dan ndag cempreng.


                Malemnya pun, sesuai janji cowok jentel. Saya pun nelpun doi, nyanyiin itu lagu lewat telpun buat doi. Malem itu pula, selepas saya selesai nyanyiin satu lagu komplit persis sama dengan reff yang berulang-ulang, doi di sana udah ga njawab telpun saya lagi, telpun saya matikan.


                Esoknya, doi baru bilang kalau semalem ketiduran. Entah saya mau bilang apa, jangan-jangan doi ngutuk saya sama suara saya lagi, karena bikin sakit telinga. Ditinggal tidur deh. Ternyata engga loh, karena malamnya, doi ganti nelpun saya. Sedikit minta maaf karena sedari sore nda bales sms saya, dan doi nyanyiin lagu itu dari sana, lewad telpun, untuk saya. Tentu saja dengan suara yang jauh lebih cantik dari suara yang kemarin saya luncurkan. Doi ngelaguin lagu itu dengan sangat benar, tanpa ada sedikitpun salah lirik atau suara cempreng. Saya benar-benar sangat mengenang momen itu.


Aku tak hanya meyakinkan dirimu,
Tapi ku juga selalu menjaga hatimu,
Tak seharusnya,
Engkau pertanyakan cinta,
Karena sesungguhnya kau yang selalu,
Membuatku berarti…


                Dan sejak saat itulah, lagu ini seperti jadi lagu wajib kami. Lagu kenangan akan cinta untuk saya. Yah, cinta yang bahkan ga tahu, seperti apa orang yang dicintai. Kita hanya nyaman, senang akan pribadi dan sifatnya, tanpa tahu secantik apa doi, tanpa tau seancur apa saya. Cinta yang saya rasa susah dirasakan sekarang ini, karena bunga tak lagi mewakili hati. Hati lebih suka diwakili oleh Ninja, Satria, Jazz, dan Yaris. Karena tak asik lagi untuk bernyanyi atas orang yang dicintai di sisinya. Kuno, kampungan, tapi romantis dan punya jejak di sini (*nunjuk ke hati) untuk saya. Oiya, selepas hari itu, saat telpun pun, kita sering saling nyanyi, yah walaupun tak harus lagu itu.



Cinta itu, aku melihat, kamu mendengar. Kita sama-sama menuju titik yang sama untuk tujuan yang sama. Sayang itu, kamu tuli, aku buta. Namun, kamu bersedia jadi mataku, dan aku mau mendengar untuk kamu.”
Quote by: Kumbang 

                                        

Di saat semua kata,
Telah habis terucap,
Namun tak sama cintaku padamu…


Mungkin yang mau tau lagunya:




Kemiskinan itu Laku Dijual, Kok




Saya sedang menghabiskan hari Minggu di dalam kamar sambil menonton televisi dan menghisap perlahan-perlahan sebatang rokok. Tiba-tiba saja Mas Kerlo, temen saya nyeletuk.

“El”
“Dalem, Mas?”
“Sekarang ini kayaknya kemiskinan itu laku dijual ya?”
“Loh. Kok bisa gitu, Mas?”
“Lah itu. Di tivi itu loh.”
“Mana toh, Mas? (Saya langsung melihat ke tivi). Acara itu,Mas?”
“Iya itu. Masak acara tivi nayangin orang-orang miskin sepuh jualan gitu?”
“Loh. Bukannya bagus toh, Mas? Kita kan jadi tau penderitaan orang lain di luar sana?”
“Iya sih, El. Tapi masak harus gitu sih?”
“Harus gitu gimana sih, Mas?”
“Liat aja loh. Hostnya kayak ngebantu gitu. Ngasih duit, mbantu apa gitu.”
“Yah. Berarti mereka kan niat bantu, Mas?”
“Ditayangin?”

Saya pun diem. Ndag ngerti maksudnya temen saya satu ini. Lalu hisap rokok lagi.

“Acara tivi itu nyari rating biar nayang terus kan, El?’
“Lha iya, Mas.”
“Nah itu kan berarti mereka jual kemiskinan orang-orang itu buat rating mereka?”
“Tapi mereka bantu kok, Mas. Memang salah toh, Mas?”
“Ndag salah kalo aku sih, El. Mereka kejam.”
“Walah… Kejam gimana, Mas?”
“Kamu kan ya ndag suka kalo ada infotainment atau berita gitu. Yang isinya, katakanlah orang mau bayar zakat, mau kurban, banyaaaaaak banget. Sampai diliput tivi?”
“Saya sih suka, Mas sama amalnya. Diliputnya itu yang ndag suka. Jadi kayak gimana gitu, ndag ikhlas.”
“Ndag ikhlas, atau juga sengaja kayak nunjukin kalau masyarakat kita itu miskin. Mbuka aib orang ke khalayak. Mungkin niatnya emang bagus ya, mbantu orang. Tapi kan ya jadi seluruh Indonesia Raya tau kalau, katakanlah Pak A, itu miskin, ndag mampu, atau gimana gitu?”
“Eeeee… Iya sih Mas.”
“Katakanlah mereka mau mbantu, ndag papa ya bantu aja. Tapi kan kayaknya ndag perlu ditayangin, dijadiin acara lagi. Host dan krunya pasti dibayar dari acara yang nampilin orang susah itu. Mereka beli itu kemiskinan, biar acaranya nayang terus, untung, terus untungnya buat mbayar kru.”
“Pencitraan juga, Mas?”
“Iya bisa jadi kalau acara kayak amal-amal gitu yang sengaja ngundang ya. Bisa jadi bikin pencitraan di depan masyarakat.”
“Dan lagi…”
“Dan lagi, kalau memang acara semacam itu ratingnya memang banyak. Berarti emang masyarakat kita suka ngeliat kemiskinan. Eh, lebih suka, daripada mbantu lebih suka liat orang miskin.”
“Nah… Kru-kru itu mbantu, Mas.”
“Iya mbantu. Terus direkam, ditayangin, biar semua orang tau siapa yang mbantu dan apa bantuannya.”

Deeg… Saya diem lagi. Apa bener kayak gitu? Mas Kerlo memang suka mikir yang aneh-aneh, tapi masak orang mbantu diprotes juga? Mungkin bukan bantuannya, mungkin ditunjukkannya ke orang lain itu yang Mas Kerlo ndag suka. Entah juga kenapa sekarang ini acara seperti itu ngejamur. Menunjukkan imej sebagai acara yang baik, karena membantu orang lain. Tapi di satu sisi, jadi semacam pencitraan. Dan kita, kita yang liat seperti disuruh tau kalau ada orng susah di luar sana dan yang mbantu adalah si A tadi. Kita menikmati kesusahan orang lain sebagai tontonan dan hiburan, bukan sebagai panggilan hati. Dan iri hati, jangan lupa iri hati. Karena saya sendiri pernah mendengar orang yang menonton acara tersebut bergumam, ‘Wiiih. Enak banget dibantu Si A. Dikasih duit segitu.”

Mas Kerlo meminum seperempat terakhir kopinya, lantas beranjak keluar kamar.

“Kemana, Mas?”
“Pergi lah. Pulang ke rumah.”
“Lah kok pulang jam segini. Ngapain, Mas?”
“Mau ngerekam ibuk yang lagi nanak nasi buat makan nanti malem. Terus disebar, biar semua orang tau, betapa sayangnya ibuk sama anak dan keluarganya.”
“Eh….”