Kartavirya Arjuna - Arjuna Sasrabahu: Sang Arjuna Berlengan Seribu

4:41 AM 0 Comments


Lama ga ngeposting yak?
Ya gini... Kesibukan rutinitas yang menceleng buta banyak nyita waktu ngejar UMR nih ^^
Kali ini share kisah pewayangan (lagi) ya, dari epik Ramayana, biar ga melulu bahas yang Mahabhrata. 

Kartawirya Arjuna (Arjuna Sasrabahu)

Kartawirya Arjuna, atau boleh dibilang Kartavirya Arjuna, Arjuna Sasrabahu, maupun Sahasrarjuna, adalah bukan merupakan tokoh bernama serupa, Arjuna, dalam epic Mahabhrata. Beliau hidup pada masa Ramayana, dan merupakan seorang raja dari kerajaan Haheya. Di pewayangan jawa, beliau adalah Prabu Maespati.
Nama Kartawirya Arjuna, dapat diartikan sebagai Arjuna Putera Kretawirya. Prabu Kretawirya sendiri adalah ayah, sekaligus raja pendahulu di kerajaan Hehaya. Sedangkan Kartawirya sendiri bermakna ‘Kekuatan Membasmi’, nama Arjuna memiliki makna ‘bersih’ ‘bersinar’ dan ‘terang’. Di Jawa, prabu yang satu ini lebih dikenal dengan nama Arjuna Sasrabahu. Sasrabahu memiliki makna ‘Berlengan Seribu’. Di Jawa, Arjuna Sasrabahu adalah salah satu awatara Vishnu.
Seperti namanya, Arjuna Sasrabahu adalah seorang sakti yang dengan kesaktiannya itu pula, beliau memiliki seribu lengan. Kehebatan Arjuna Sasrabahu , telah dibuktikan dengan mengalahkan tokoh antagonis utama Ramayana, Rahvana. Rahvana, beberapa tahun sebelum dikalahkan oleh Sri Rama, adalah seorang raja besar Alengka yang terus menerus memperbesar kerajaannya dengan cara menjajah daerah-daerah sekitarnya.
Pada suatu hari, kamp tempat penginapan Rahvana dalam masa perluasan tergenang banjir. Rahvana pun berang dan mencari asal muasal banjir di penginapannya. Dilihatnya ternyata sang Prabu sedang tertidur dan seribu lengannya membendung aliran sungai Narmada. Rahvana pun marah dan segera menyerang Arjuna. Pertempuran sengit pun terjadi, dan berakhir dengan kekalahan Rahvana. Rahvana diikat dan diseret dengan kuda Arjuna menuju singgasana Haheya. Sesaat akan dieksekusi, Resi Pulastya, kakek Rahvana datang dan memohon agar Rahvana dibebaskan. Arjuna pun mengampuni Rahvana dan membiarkannya pulang dengan perasaan malu.

Sapi Sakti: Kamadhenu

Sang Prabu tewas di tangan Parasurama (salah satu awatara Vishnu – seorang dengan hidup abadi). Alkisah, Arjuna berkunjung ke Jamadagni. Pada awalnya, kunjungan itu penuh dengan sambutan hormat sang Resi pada Arjuna. Namun saat Arjuna melihat sapi sakti milik Jamadagni, yaitu Kamadhenu, dan memintanya, sang Resi menolak. Hal itu membuat Arjuna murka dan merampas sapi tersebut. Putra Jamadagni, Parasurama, yang melihat sapi ayahnya dirampas, segera mengejar Arjuna. Bersenjatakan kapak Dewa Siwa, Parasurama berhasil memotong seribu lengan Arjuna dan memenggal kepalanya. Putra-putra Arjuna yang tidak terima Arjuna dibunuh, balik menyerang dan membunuh Jamadagni saat Parasurama tidak ada. Hal ini yang membuat Parasurama mengamuk dan menumpas semua keluarga besar Kartawirya Arjuna.


Kartavirya Arjuna - A Thousand Hand Warrior


. ARJUNA SASRABAHU
Dalam pewayangan jawa, prabu Arjuna Sasrabahu adalah prabu pada kerajaan Maespati. Beristrikan Citrawati, salah satu inkarnasi Dewi Widowati, pada masanya. Beliau adalah salah satu awatara Vishnu. Beliau memiliki keponakan yang bernama Sumantri dan Sukasrana, sedangkan dengan Parasurama, atau lebih dikenal sebagai Ramabargawa di Jawa, beliau masih memiliki hubungan sepupu.
Dalam hal memperistri Citrawati, diutuslah Sumantri menuju Magadha untuk mengikuti sayembara memboyong Citrawati. Dengan kesaktiannya, berdirilah Sumantri di arena sayembara, seribu raja bersinggasana gajah dibuat mengerang, menangis darah oleh Sumantri. Kemenangan dalam sayembara tersebut membuat Sumantri lupa diri, sehingga ditantanglah sang Paman, Arjuna Sasrabahu, dalam pertempuran memperebutkan Citrawati. Pertarungan sengit terjadi, hingga akhirnya Sumantri pun mengaku kalah. Arjuna mengampuninya dengan syarat mampu memindahkan Taman Sriwedari dari gunung Untarayana ke dalam Maespati. Dengan bantuan adiknya, Sukasrana, Sumantri berhasil memindahkan taman tersebut hingga akhirnya dia diangkat menjadi patih di Maespati, bergelar Patih Suwanda.
Pada suatu hari,pergilah Arjuna dan Citrawati. Citrawati berkeinginan untuk dapat mandi bersama dengan seribu abdinya di sungai Narmada. Begituah, Arjuna segera mengubah dirinya menjadi raksasa, dan dengan seribu tangannya, beliau membendung aliran sungai, dan tertidur di sana. Bendungan seribu tangan Arjuna itulah yang membuat banjir menggenangi kemah Rahvana dalam upaya perluasan wilayahnya. Ditambah lagi dengan pengetahuan bahwa Citrawati adalah inkarnasi dari Dewi Widowati, maka semakin bersemangatlah Rahvana. Tak ayal, Rahvana dan pasukannya segera menyerang kemah Arjuna. Sumantri berdiri dan menghadang, melindungi ndoro dan ndorowati-nya.
Pertempuran sengit terjadi. Luluh lantak bersimbah darah Patih Suwanda yang sebelumnya membantai seribu pasukan bergajah tanpa berkeringat. Suwanda tewas. Arjuna yang mengetahui keponakan tersayangnya mati, bangun dan segera maju menghadang Rahvana. Kali ini, Rahvana berhasil diikat, dan diseret di belakang kereta kudanya mengelilingi dunia. Bathara Narada yang melihat penyiksaan itu turun ke bumi. Beliau meminta pada Arjuna agar mau melepaskan Rahvana. Memang takdir Rahvana untuk mati di tangan inkarnasi Vishnu, namun bukan inkarnasi yang ini. Mengetahui itu, Arjuna mengampuni Rahvana. Rahvana pun memimpin sebagai abdi Arjuna.
Namun, keinginan Rahvana tak berhenti sampai di situ. Saat Arjuna pergi berburu, Rahvana masuk ke Maespati dan menemui Citrawati. Beliau mengabarkan bahwa Prabu Arjuna telah tewas saat berburu. Dengan tujuan agar Citrawati melupakan Arjuna dan ikut Rahvana. Namun yang terjadi, Citrawati malah melakukan belapati dengan cara bunuh diri, masuk ke kobaran api. Mengetahui istrinya mati, ditambah dengan kematian Suwanda sebelumnya, Arjuna Sasrabahu merasa putus asa dan pergi menggelandang ke hutan. Saat itulah, Vishnu keluar dari Arjuna sehingga selesailah masa awatara Arjuna.
Di sisi lain, Ramabargawa (dalam pewayangan jawa, Ramabargawa/ Parasurama bukanlah awatara Vishnu), sedang dalam perjalanan mencari cara agar kematiannya sempurna. Dewata memberitahu bahwa kematian sempurna hanya akan diperolehnya dari awatara Vishnu. Untuk itulah Ramabargawa mendatangi Arjuna dan menantangnya bertarung. Arjuna meladeni, namun karena keadaan Arjuna yang sudah kehilangan semangat hidup, Arjuna pun kalah mengenaskan dengan terpotongnya seribu lengannya, dan berakhir dengan pemenggalan kepala Arjuna. Karena Arjuna kalah, Ramabargawa merasa telah ditipu, sehingga Dewata pun memberitahu bahwa Vishnu sudah keluar  dari raga Arjuna dan akan terlahir lagi pada Sri Rama. Karena itulah Ramabargawa segera pergi mencari Rama, dan kemudian akan dikalahkan oleh Rama.

Lukisan pembantaian Arjuna oleh Parasurama

Begitulah akhir riwayat dari Arjuna Sasrabahu. Seorang raja besar,baik dalam mitologi Hindu maupun dalam sejarah pewayangan Jawa. Kalau yang seangkatan saya, mungkin pada masa Sekolah Dasar akan ingat dengan sebuah buku ‘Pepak Basa Jawa’. Disana ada bagian yang menyebut bahwa Arjuna adalah raja Maespati. Bagi masyarakat kekinian, nama Arjuna ya Arjuna Pandhuputera tersebut, Saudara dari Yudhistira, Bima, Nakula, dan Sadewa. Padahal, jauh sebelum masa Mahabharata, ada seorang raja yang bernama Arjuna juga. Dan bahkan beliau sempat disebut sebagai awatara Vishnu, mampu mengalahkan Rahvana, dan beristrikan Citrawati, salah satu inkarnasi Dewi Widowati selain Dewi Sukasalya (Dewi Kosalya, istri Dasarata, ibu dari Rama), dan Sita (Dewi Sinta, istri dari Sri Rama).
Kartavirya Arjuna, Sang Raja Hehaya, beribukota di Maespati.

Unknown

Some say he’s half man half fish, others say he’s more of a seventy/thirty split. Either way he’s a fishy bastard. Google

0 komentar:

Dimohon untuk menggunakan kata-kata yg sopan