Abhimanyu: Kematian Tragis Sang Ksatria

10:24 PM 0 Comments




Selamat malam sahabat AlteresIND,

Setelah kita berbagi kisah kepahlawanan Dewabhrata Bisma dan Vasudev Khrisna, kali ini saya ingin berbagi tentang kisah tokoh kepahlawanan lain, yaitu Abhimanyu putera Arjuna.
Kisah tragis dalam peperangan terakhirnya, dan semangatnya serta keberaniannya dalam memikul tanggung jawab pada ayah, dan baktinya, membuat saya tertarik untuk berbagi kisah tentang satria yang satu ini.

Namun penokohan versi India dan Jawa yang berbeda sangat jauh dalam perwatakan tokoh ini akan membuat banyak sekali kisah yang berbeda dan kontradiksi di daerah-daerah dengan legenda tersendiri. Yang saya bagi ini hanyalah salah satu kisah kepahlawanan Abhimanyu yang cukup netral dan umum diceritakan.



ABHIMANYU

                Abhimanyu adalah salah satu tokoh dalam wiracarita epic Mahabhrata. Abhimanyu adalah putera dari Arjuna putera Pandu dan Subadhra puteri Basudewa. Abhimanyu digambarkan sebagai ksatria muda dengan kehormatan tinggi yang meninggal dengan tragis pada saat perang Bharatayuda di Kurukhsetra, dibantai oleh lusinan senapati dari Korawa. Kegigihan dan keberaniannya yang sangat tinggi membuat saya tertarik untuk membagi kisah kehidupannya.


                Nama Abhimanyu terbentuk dari dua kata Sansekerta. Yaitu abhi yang berarti ‘berani’ dan man’yu yang berarti ‘tabiat’. Abhimanyu  diartikan sebagai ksatria yang mempunyai tabiat yang berani atau tak kenal takut. Dia menikahi Dewi Uttara, puteri dari Raja Wirata, dan memiliki putera tunggal bernama Parikesit. Parikesit sendiri adalah satu-satunya keturunan Kuru yang tersisa setelah Bharatayuda, selain Pandawa.


                Pada saat masih di kandungan Subadhra, Arjuna sempat bercerita tentang strategi perang kepada Subadhra. Pada saat itulah, Abhimanyu yang masih di dalam kandungan, sempat menguping pembicaraan Arjuna dan Subadhra. Hal itu mengakibatkan Abhimanyu adalah salah satu ksatria yang mendapat pengetahuan untuk masuk ke formasi perang Chakra Vyooh (Chakra Wyuuha), selain Sri Khrisna, Arjuna, Drupada, dan Mahaguru Drona. Kekurangannya adalah, sebelum Arjuna menyelesaikan penjelasannya pada Subadhra, Subadhra tertidur. Itulah sebabnya, Abhimanyu hanya mengerti bagaimana memasuki Chakra Vyooh, namun tidak bisa keluar dari sana.


                Pada hari ke-13 Bharatayuda. Pasukan Korawa memunculkan formasi perang Chakra Vyooh. Pandawa dengan menunjuk Khrisna dan Arjuna, berencana masuk dan membubarkan formasi tersebut. Namun sayangnya, pada hari perang, Khrisna dan Arjuna harus menghadapi pasukan Raja Trigarta dan terpaksa keluar dari Kurukhsetra. Sehingga pada hari itu, hanya Abhimanyu lah yang mempunyai pengetahuan untuk memasuki formasi Chakra Vyooh. Keraguan menghampiri kubu Pandawa karena Abhimanyu sama sekali tidak mengetahui cara keluar dari formasi tersebut. Sehingga kubu Pandawa (Yudhistira, Bima, Nakula, dan Sadewa) pun berniat mengikuti Abhimanyu masuk ke dalam formasi tersebut dan membantu Abhimanyu untuk keluar dari sana.


                Dengan berani dan berbekal pengetahuannya, Abhimanyu dengan cerdik masuk ke dalam Chakra Vyooh, diikuti Pandawa. Namun, tak beberapa lama, Raja Sindhu, Jayadhrata, datang menghadang para Pandawa. Dengan berkat Siwa yang dimilikinya (mampu menahan Pandawa (kecuali Arjuna) selama satu hari), Jayadhrata berhasil menahan Pandawa tertinggal di belakang, dan hanya menyisakan Abhimanyu sendiri masuk ke dalam formasi menghadapi senapati-senapati Korawa.


                Dan di dalam sanalah, Abhimanyu putera Arjuna berjuang. Menembus barikade senapati Korawa. Bahkan dia sempat membunuh Laksmana, putera Duryodhana. Hal itu segera membuat Duryodhana berang, dan memerintahkan Karna (Raja Angga, Putera Surya, Narpati Basukarna) memanah busur Abhimanyu dari belakang. Setelah busurnya patah, segera pihak Korawa menyerang Abhimanyu secara serentak. Abhimanyu sempat bertahan hingga pedang, kereta, dan kudanya hancur. Perisai yang digunakan Abhimanyu, yang berasal dari roda kudanya, turut serta dihancurkan. Pembantaian terhadap Abhimanyu akhirnya terhenti setelah Putra Dursasana menghancurkan kepalanya dengan gada.


                Berita kematian Abhimanyu sampai pada Arjuna. Kesedihan pula dengan segera menghampiri Arjuna. Arjuna sadar, jika Jayadhrata tidak menghalangi Pandawa, sudah pasti Pandawa mampu membantu Abhimanyu keluar dari jebakan tersebut. Hal itu membuat Arjuna mengucap sumpah akan membunuh Jayadhrata pada hari berikutnya, atau dia yang akan mati.


                Hari ke-14 Bharatayuda. Arjuna dengan sumpahnya menembus barikade pertahanan Korawa. Sementara Jayadhrata, yang merupakan target utama Arjuna, disembunyikan pihak Korawa jauh dari jangkauan Arjuna. Lusinan senapati yang coba menghadang Arjuna, dengan sigap segera tertembus pertahanannya oleh Arjuna. Namun hingga matahari menjelang senja tiba, Jayadhrata masih disembunyikan sehingga tak terlihat oleh Arjuna. Melihat hal itu, Sri Khrisna segera mengeluarkan Chakra sehingga senjata tersebut menutupi matahari dan suasana Kurukhsetra menjadi gelap. Melihat hal itu, pihak Korawa mengganggap peperangan telah usai. Jayadhrata segera keluar dari persembunyiannya dan menagih sumpah Arjuna untuk mati, karena tak mampu membunuh Jayadhrata. Sri Khrisna yang telah melihat Jayadhrata keluar, segera menarik Cakhra dan Kurukhsetra kembali terkena sinar matahari. Belum sempat Jayadhrata sadar telah masuk perangkap Khrisna, Arjuna telah menarik busurnya dan memutus leher Jayadhrat.


                Dalam pewayangan Jawa, Abhimanyu merupakan ksatria paling pemberani di keturunan Kuru. Dia adalah satria termuda yang tewas di Bharatayuda, pada usia 16 tahun. Pembantaian yang dilakukan Korawa adalah dengan menembakkan ribuan panah dan senjata serentak ke arah Abhimanyu, sampai dia jatuh dan terjerembab. Dalam pewayangan Jawa, lukanya disebut Arang Kranjang –banyak sekali-. Sehingga tubuhnya sampai seperti landak, dengan ribuan senjata menancap di tubuhnya. Kekalahan Abhimanyu tersebut adalah akibat sumpahnya sendiri saat melamar Dewi Utari. Abhimanyu yang kala itu telah beristri Siti Sundari, berucap sumpah akan mati dihujani panah jika dia ternyata telah menikah. Dewi Utari percaya dan akhirnya mnikahinya, namun karena memang Abhimanyu berbohong, dia pun dihujani panah pada Bharatayuda. Lesmana yang mengetahui Abhimanyu terjerembab, mendekati dan coba membunuh Abhimanyu. Namun ternyata Abhimanyu masih sanggup melempar Keris Pulaanggeni, mengakhiri hidup Lesmana dan 4 satria Korawa lain. Dan pada akhirnya, Gada Galih Asem milik Jayadhrata, satrianing Banakeling lah yang menghabisi Abhimanyu.


                Berikut adalah kutipan Kakawin Bharatayuda tentang pertempuran terakhir Abhimanyu (sumber Wikipedia Indonesia):
.
Ngkā Sang Dharmasutā təgəg mulati tingkahi gəlarira nātha Korawa, āpan tan hana Sang Wrəkodara Dhanañjaya wənanga rumāmpakang gəlar. Nghing Sang Pārthasutābhimanyu makusāra rumusaka gəlar mahā dwija, manggəh wruh lingirāng rusak mwang umasuk tuhu i wijili rāddha tan tama

Sāmpun mangkana çighra sāhasa masuk marawaça ri gəlar mahā dwija. Sang Pārthātmaja çūra sāra rumusuk sakəkəsika linañcaran panah, çirṇa ngwyuha lilang təkap Sang Abhimanyu təka ri kahanan Suyodhana. Ḍang Hyang Droṇa Krəpāpulih karaṇa Sang Kurupati malayū marīnusi.

Ṇda tan dwālwang i çatru çakti mangaran Krətasuta sawatək Wrəhadbala. Mwang Satyaçrawa çūra mānta kəna tan panguḍili pinanah linañcaran. Lāwan wīra wiçesha putra Kurunātha mati malara kokalan panah. Kyāti ng Korawa wangça Lakshmanakumāra ngaranika kaish Suyodhana.

Ngkā ta krodha sakorawālana manah panahira lawan açwa sarathi. Tan wāktān tang awak tangan suku gigir ḍaḍa wadana linaksha kinrəpan. Mangkin Pārthasutajwalāmurək anyakra makapalaga punggəling laras. Dhīramūk mangusir ỵaçānggətəm atễn pəjaha makiwuling Suyodhana.

Ri pati Sang Abhimanyu ring raṇāngga. Tənyuh araras kadi çéwaling tahas mas. Hanana ngaraga kālaning pajang lèk. Çinaçah alindi sahantimun ginintən.


Berikut adalah kurang lebih artinya:
Pada saat itu Yudistira tercengang melihat formasi perang Raja Korawa, sebab Bima dan Arjuna tak ada padahal merekalah yang dapat menghancurkannya. Hanya Putera Arjuna, yaitu Abimanyu yang bersedia merusak formasi yang disusun pendeta Drona itu. Ia berkata bahwa ia yakin dapat menggempur dan memasuki formasi tersebut, hanya saja ia belum tahu bagaimana cara keluar dari formasi tersebut.

Setelah demikian, mereka segera membelah dan menyerang formasi pendeta Drona tersebut dengan dahsyat. Sang Abimanyu merupakan kekuatan yang membinasakan formasi tersebut dengan tembakan panah. Sebagai akibat serangan Abimanyu, formasi tersebut hancur sampai ke pertahanan Duryodana. Dengan ini Dona dan Krepa mengadakan serangan balasan, sehingga Duryodana dapat melarikan diri dan tidak dikejar lagi.

Dengan ini tak dapat dipungkiri lagi musuh yang sakti mulai berkurang seperti Kretasuta dan keluarga Wrehadbala. Juga Satyaswara yang berani dan gila bertarung tertembak sebelum dapat menimbulkan kerusakan sedikit pun karena dihujani panah. Putera Raja Korawa yang berani juga gugur setelah ia tertusuk panah. Putera tersebut sangat terkenal di antara keluarga Korawa, yaitu Laksmanakumara, yang disayangi Suyodhana.

Pada waktu itu seluruh keluarga Korawa menjadi marah, dan dengan tiada hentinya mereka memanahkan senjatanya. Baik kuda maupun kusirnya, badan, tangan, kaki, punggung, dada, dan muka Abimanyu terkena ratusan panah. Dengan ini Abimanyu makin semangat. Ia memegang cakramnya dan dengan panah yang patah ia mengadakan serangan. Dengan ketetapan hati ia mengamuk untuk mencari keharuman nama. Dengan hati yang penuh dendam, ia gugur di tangan Suyodhana.

Ketika Abimanyu terbunuh dalam pertempuran, badannya hancur. Indah untuk dilihat bagaikan lumut dalam periuk emas. Mayatnya terlihat dalam sinar bulan dan telah tercabik-cabik, sehingga menjadi halus seperti mentimun.


Unknown

Some say he’s half man half fish, others say he’s more of a seventy/thirty split. Either way he’s a fishy bastard. Google

0 komentar:

Dimohon untuk menggunakan kata-kata yg sopan